Senin, 11 April 2016

Periode anak awal




BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada periode sering kali kita melihat kasus atau penyimpangan perilaku anak periode awal yang memasuki tahap perkembangan kepribadian yang cenderung kearah negatif. Pada era modern banyak orang tua yang tidak tahu-menahu mengenai periode anak awal ini sesuai dengan kaidah perkembangan yang benar dan tepat. Banyak kasus, salah asuhan orang tua terhadap anak. Penting orang tua untuk membaca dan memahami pola asuh pada periode anak awal ini karena letak keberhasilan kepribadian anak juga dipengaruhi oleh peran orang tua.
Awal perkembangan anak merupakan periode yang kritis bagi perkembangan. Menurut Milton, periode kanak-kanak meramalkan periode DEWASA, sebagaimana pagi hari meramalkan hari baru.
Bidang spesifik perilaku anak adalah:
BICARA, EMOSI, MINAT BERMAIN, dan KEGIATAN.
Macam-macam istilah yang diberikan pada periode anak awal ini dalam berbagai pandangan,yaitu :
v ORANGTUA
o  Problem age atau troublesome age.
o  Orangtua dihadapkan pada problem tingkah laku (keras kepala, tidak menurut, negativistis, tempertantrums, mimpi buruk, iri hati, ketakutan yang irasional).
o  Tidak menarik (not appealing).
v PENDIDIK/GURU
o  Usia prasekolah (preschool age).
v PSIKOLOG
o  Usia pra-geng (pre-gang age).
o  Periode eksplorasi.
v Usia bertanya (questioning age).
Anak sudah mulai dapat melakukan interaksi dengan orang yang berada di sekitarnya. Anak yang sangat senang bermain dan ingin mengetahui segala sesuatu. Periode anak juga merupakan periode kreatif dan mudah meniru.
Atas dasar inilah periode anak dianggap sebagai pembentukan karakter, pada periode ini anak cenderung melihat bagaimana orang disekitarnya bertindak dan meniru tindakannya. Pada masa ini orang tua diharuskan untuk bijaksana. Periode ini juga merupakan usia menjelajah, anak ingin mengetahui apa yang ada disekitarnya dan bagaimana mekanismenya serta  anak berusaha agar menjadi bagian dari lingkungannya.



1.2            Tujuan penulisan

1.       Menambah khazanah ilmu pengetahuan mengenai periode anak awal.
2.      Menginformasikan dan mendiskripsiakn  periode anak awal.
3.      Mengetahui definisi, karakteristik, tugas perkembangan,kebutuhan,masalah serta abnormalitas pada periode anak awal.









BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Periode  Anak Awal
            Periode anak awal yaitu suatu proses perkambangan yang memperbolehkan anak untuk berinteraksi dengan orang lain. Periode anak awal dimulai usia dua tahun sampai usia enam tahun.

2.2 Batas Usia dan Karateristik Periode Anak Awal
            a. Batas Usia Periode Anak Awal
            Periode anak awal ada di urutan usia 2 – 6 tahun. Periode anak awal dimulai sebagai penutup masa bayi –usia dimana ketergantungan secara praktis sudah dilewati ,diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir di sekitar usia masuk sekolah dasar.
b. Karakteristik Periode Anak Awal
Menurut Milton, periode kanak-kanak meramalkan periode DEWASA, sebagaimana pagi hari meramalkan hari baru.
Bidang spesifik perilaku anak adalah:
BICARA, EMOSI, MINAT BERMAIN, dan KEGIATAN.
Macam-macam istilah yang diberikan pada periode anak awal ini dalam berbagai pandangan,yaitu :
       ORANGTUA
Ø  Problem age atau troublesome age.
Ø  Orangtua dihadapkan pada problem tingkah laku (keras kepala, tidak menurut, negativistis, tempertantrums, mimpi buruk, iri hati, ketakutan yang irasional).
Ø  Tidak menarik (not appealing).
       PENDIDIK/GURU
Ø  Usia prasekolah (preschool age).
       PSIKOLOG
Ø  Usia pra-geng (pre-gang age).
          Periode eksplorasi.
Ø  Usia bertanya (questioning age).
            Pada periode ini anak pertumbuhan fisik cenderung lebih lambat dibandikan saat periode bayi. Organ – organ jasmaniyahnya nampak serasi dan proporsional dan gerakan – gerakannya terarah dan lincah.
 Karateristik Periode Anak Awal :
a.       Usia Yang Mengandung Masalah Atau Usia Sulit
            Masa ini ditandai dgn seringkali bandel, keras kepala, tidak menurut (negativistis), melawan, marah tanpa alasan, malam hari terganggu mimpi buruk, siang hari ada rasa takut yg tidak rasional, dan merasa cemburu.
b.      Usia Bermain
            Sebgaian besar waktunya dihabiskan untuk bermain dgn mainannya.
c.       Usia Prasekolah
            Di lingkungan manapun (rumah, tempat penitipan, dll) menekankan pada masa persiapan pada pendidikan formal.
d.      Usia Belajar Berkelompok
e.       Usia Menjelajah Dan Bertanya
            Masa dimana anak-anak awal ingin mengetahui keadaan lingkungannya dgn cara bertanya.
f.       Usia Meniru Dan Usia Kreatif
            Meniru pembicaraan dan tindakan orang lain serta menunjukkan kreativitas dalam bermain.
g.      Long Term Memory (Ingatan Jangka Panjang) Cukup Kuat

Pertumbuhan fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.

ü  Tinggi bertambah rata-rata 3 inci tiap tahun.
ü  Berat bertambah antara 3-5 pon tiap tahun .
ü  Perkembangan bagian tubuh :
    • Dagu tampak lebih jelas
    • Leher memanjang
    • Dada lebih bidang dan datar
    • Bahu lebih luas dan persegi
    • Lengan dan kaki lebih panjang dan lurus

ü  Postur tubuh atau bentuk tubuh anak mulai jelas ,apakah anak berpostur :
o    Endomorfik yaitu gemuk dan lembek
o    Mesomorfik yaitu kuat dan berotot
o    Ektomorfik yaitu kurus
ü  Tulang dan Otot menjadi lebih besar,lebih kuat dan lebih berat.
ü  Gigi ,pada usia antara 26-28 bulan,4 gigi geraham anak akan muncul dan sebelum menginjak usia 5,5 tahun seluruh telah tumbuh dan kemudian mulai tanggal dan digantikan gigi yang tetap.
Pada periode kanak-kanak awal, rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm setiap tahun, dan bertambah berat 2,5 – 3,5 kg setiap tahun. Pada usia 6 tahun berat harus kurang lebih mencapai tujuh kali berat pada waktu lahir.

Perkembangan Keterampilan dibagi menjadi dua, yaitu:
a.    keterampilan atau gerakan kasar, seperti berjalan, berlari melompat, naik dan turun tangga
b.    keterampilan atau gerakan halus atau memanipulasi, seperti menulis, menggambar, memotong, melempar dan menangkap bola, serta memainkan benda atau alat-alat mainan.
Dalam rangka mengembangkan potensi anak maka guru harus memberikan bimbingan agar memiliki kesadaran akan kemampuan sensorinya, dan sikap yang positif terhadap dirinya.

Kognitif artinya kemampuan berfikir, kemampuan menggunakan otak. Perkembangan kognitif berarti perkembangan anak dalam menggunakan kekuatan berfikirnya. Dalam perkembangan kognitif, anak dalam hal ini otaknya mulai mengembangkan kemampuan untuk berfikir, belajar dan mengingat. Dunia kognitif anak pada usia ini adalah kreatif, bebas, dan fantastis. Imajinasi anak berkembang sepanjang waktu, dan pemahaman mental mereka mengenai dunia menjadi lebih baik. Pada tingkat ini anak sudah dapat meningkatkan penggunaan bahasa dengan menirukan perilaku orang dewasa.
Selama periode anak awal ini anak-anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan 2 hal yaitu ,
a)      Bicara merupakan sarana pokok untuk sosialisasi dengan teman-temannya sehingga ia akan lebih adakan berkomunikasi dengan teman-teman sebaya, kontak sosial, dan lebih mudah diterima sebagai anggota kelompok.
b)      Belajar bicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Anak yang tidak mampu mengemukakan keinginannya atau yang tidak berusaha untuk bisa dimengerti oleh orang lain cenderung diperlakukan sebagai bayi sehingga tidak bisa mencapai kemandirian. Untuk meningkatkan kemampuan komunikasi anak-anak harus menguasai dua hal:
 pertama, meningkatkan kemampuan untuk memahami apa yang dikatakan orang lain, dan
 kedua, kemampuan untuk meningkatkan kemampuan bicara sehingga bisa dimengerti orang lain.
Kompetensi anak juga perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang. Ainsworth dan Wittig  serta Shite dan Wittig (Fitri, 2008) menjelaskan cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten dengan cara sebagai berikut:
1) Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.
2) Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.
3) Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.
4) Berikan kesempatan dan dorongan untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.
5) Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku.
6) Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya.
7) Kagumilah apa yang dilakukan anak.
8) Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati.

Perkembangan psikososial yang terjadi pada periode ini meliputi beberapa hal yaitu :
a.       Perkembangan emosi
Selama awal periode kanak-kanak emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat ketidakseimbangan karena anak-anak “keluar dari fokus” dalam arti bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledakan, emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Hal ini tampak mencolok pada anak-anak usia 2,5 sampai 6,5 tahun, meskipun pada umumnya hal ini berlaku pada hampir seluruh periode  anak awal
Biasanya para orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal saja, padahal sang anak merasa ia mampu melakukan lebih banyak lagi, sehingga pada akhrinya anak pun akan menolak larangan orang tua dan anak cenderung akan memberontak. Anak pun akan meledak amarahnya jika ia tidak bisa melakukan sesuatu yang dianggap dapat dilakukan dengan mudah.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi anak pada fase ini ialah:
1)      Kecerdasan
2)      Perbedaan seks
3)      Besarnya keluarga
4)      Lingkungan sosial
Emosi yang umum pada periode awal kanak-kanak antara lain :
1)      Amarah
2)      Takut
3)      Cemburu
4)      Ingin tahu
5)      Iri hati
6)      Gembira
7)      Sedih
8)      Kasih sayang
Dari berbagai macam emosi pada periode awal anak-anak seperti yang telah disebutkan diatas, diketahui bahwa anak mulai menunjukkan berbagai macam emosi dan reaksi terhadap apa yang dialaminya, dan emosi ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya terutama lingkungan rumah. Anak akan mengekspresikan apa yang dirasakannya baik itu rasa senang, amarah, takut dan lain-lain melalui emosi, biasanya anak-anak pada periode awal perkembangan masih belum bisa mengontrol emosi mereka dengan baik.
b.      Perkembangan sosial
Dasar untuk sosialisasi pada anak-anak diletakkan dengan meningkatnya hubungan antara anak dengan teman-teman sebayanya dari tahun ke tahun. Anak tidak hanya bermain dengan anak-anak lain tetapi juga lebih banyak bicara. Jika anak menyenangi  hubungan dengan orang lain meskipun hanya kadang-kadang  saja, maka sikap terhadap kontak sosial mendatangkan lebih baik daripada hubungan sosial yang sering tetapi sifat hubungannya kurang baik
Pada pernyataan diatas dijelaskan bahwa perkembangan sosialisasi pada awal periode anak-anak awal ditandai dengan meningkatnya intensitas hubungan dengan teman-teman sebayanya, dan perkembangan ini meningkat dari tahun ke tahun.
Pada fase ini juga anak-anak tidak hanya senang bermain tetapi juga lebih banyak berbicara.  Hubungan atau kontak sosial lebih baik dari pada hubungan sosial yang kurang baik.
c.       Perkembangan permainan
Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada awal periode anak-anak. Sebab anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah bermain dengan teman-temannya dibanding terlibat dalam aktivitas lain. Permainan bagi anak-anak adalah suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-mata untuk aktivitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini, karena bagi anak-anak proses melakukan sesuatu lebih menarik dari pada hasil yang akan didapatkannya (Schwartzman, 1978).
Jadi, permainan lebih mendominasi kehidupan anak-anak di periode ini, karena anak-anak banyak menghabiskan waktunya untuk bermain yang mana bermain adalah hal yang sangat menyenangkan dan menarik bagi anak-anak, bermain merupakan aktivitas yang sangat penting bagi perkembangan di awal periode anak-anak.
d.      Perkembangan moral
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral, tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan.
 Perkembangan moral pada awal periode kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik dimana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Awal periode anak-anak ditandai dengan apa yang oleh Piaget disebut “moralitas melalui paksaan” Dalam tahap perkembangan moral ini anak-anak secara otomatis mengikuti peraturan-peraturan tanpa berpikir atau menilai.
            Jadi pada awal periode anak-anak perkembangan moral tidak begitu pesat berkembang, hal ini disebabkan oleh pemikiran intelektual anak-anak belum bisa mencapai pemahaman menganai prinsip-prinsip benar dan salah, pada periode ini anak-anak belum bisa membedakan hal-hal yang benar untuk dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Pada periode ini anak-anak hanya mengikuti peraturan yang telah ada


2.3 Tugas Perkembangan Periode Anak Awal
Tugas perkembangan menurut Robert J. Havighurs (Shavie, 2009) adalah sebagian tugas yang muncul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu, yang merupakan keberhasilan yang dapat memberikan kebahagian serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu : kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya.
Adapun tugas-tugas perkembangan periode kanak-kanak awal adalah sebagai berikut:
  1. Belajar memakan makananan padat. Sampai akhir periode bayi, anak sudah belajar memakan makanan padat dan keras serta telah mencapai tingkat stabilitas fisiologis yang cukup baik.
  2. Belajar berjalan. Pada saat periode bayi berakhir, semua bayi normal telah belajar berjalan meskipun dalam tingkat kecakapan yang berbeda-beda.
  3. Belajar berbicara. Meskipun sebagian besar bayi telah menambah kosa kata dan telah mampu mengucapkan kata-kata, memahami arti kata dan perintah sederhana, mampu menggabungkan beberapa kata menjadi kalimat yang berarti, namun kemampuan mereka dalam berkomunikasi dengan orang lain untuk mengerti apa yang mereka katakan masih dalam taraf rendah. Masih banyak yang belum mereka kuasai selum masuk sekolah
  4. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh. Tugas pokok dalam belajar mengendalikan pembuangan kotoran sudah hampir sempurna dan akan sepenuhnya dikuasai dalam satu atau dua tahun lagi.
  5. Mempelajari perbedaan dan peran yang sesuai dengan jenis kelamin. Pada tahap ini anak belajar mengenai perbedaan jenis kelamin dan peran yang sesuai dengan jenis kelamin.
  6. Mempersiapkan diri untuk membaca. Di akhir periode kanak-kanak awal anak harus sudah memasuki pendidikan formal dan mulai memasuki usia sekolah. Anak harus memiliki kesiapan untuk mengikuti aktivitas rutin di sekolah termasuk mengikuti pelajaran di sekolah seperti membaca.
  7. Mulai membedakan benar dan salah, mulai belajar mengembangkan hati nurani. Pengetauan tentang benar dan salah masih terbatas pada situasi rumah dan harus diperluas dengan pengertian benar dan salah dalam hubungannya dengan orang lain di luar rumah terutama dengan tetangga, sekolah dan teman bermain. Yang terpenting anak harus meletakkan dasar-dasar untuk mengembangkan hati nurani sebagai bimbingan untuk perilaku benar dan salah.
  8. Belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang tua, kaka, adik, dan orang lain. Anak harus belajar memberi dan menerima kasih sayang, ia harus mulai berorientasi keluar daripada dirinya sendiri.
  9. Memperoleh stabilitas fisiologis : Keseimbangan tubuh dalam menyesuaikan diri pada lingkungan.
  10. Membentuk konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan fisik :Membentuk rancangan atau gambaran kenyataan sosial dan fisik.
2.4 Kebutuhan Periode Anak Awal
1. Kebutuhan pokok
Kebutuhan dasar anak seperti makan,minum,dorongan seks(penegasan kelamin).
1.      Kebutuhan tambahan
Pada periode anak awal ini dibutuhkan seperti pemberian  pakaian, bermain,kasih sayang, pengetahuan agama, peningkatan kreativitas, pengenalan anggota dan lingkungan sekitar.

2.5 Masalah Periode Anak Awal
Bahaya pada periode awal anak-anak ini dapat bersifat fisik, psikologis, atau keduanya. Gizi yang kurang baik dapat menghalangi pertumbuhan fisik dan mental seperti halnya pertengkaran keluarga dapat mengabaikan tekanan yang juga dapat menghambat pertumbuhan. Bahaya psikologis pada awal periode kanak-kanak lebih merusak penyesuaian pribadi serta penyesuaian sosial anak.

Bahaya Fisik
Bahaya fisik awal periode kanak-kanak menimbulkan reaksi psikologis maupun fisik, terutama penyakit, kecelakaan dan kejanggalan.

1.    Bahaya Kematian
Kematian mulai menurun pesat dalam bagian akhir periode bayi dan semakin pesat lagi  selama awal periode kanak-kanak. Kematian dalam awal periode kanak-kanak lebih sering disebabkan karena kecelakaan daripada karena penyakit dan karena anak laki-laki lebih banyak mengalami kecelakaan daripada anak perempuan, maka kematian anak laki-laki lebih sering daripada anak perempuan.

2.    Penyakit
Anak-anak sangat mudah terkena semua jenis penyakit, tetapi yang paling umum adalah penyakit pernafasan. Sebagian besar penyakit disebabkan karena sebab-sebab fisiologis, tetapi ada juga yang penyebabnya  psikosomatis dan akibat dari ketegangan keluarga.
Karena adanya “obat-obatan ajaib” dan banyaknya imunisasi yang  dapat diperoleh saat ini, penyakit anak tidak berlangsung lama dan tidak sehebat dulu dan tidak banyak mengakibatkan cacat fisik yang menetap. Namun, penyakit secara psikologis dapat merusak karena dua hal,
a)    Anak yang sakitnya lama akan tertinggal dalam mempelajari pelajaran keterampilan yang diperlukan untuk bermain dengan teman-temannya.setelah sembuh  dan dapat kembali mengikuti kelompok bermain ia akan merasa canggung.
b)   Kalau orang tua menganggap penyakit sebagai bencana keluarga dan menyalahkan anak anak karena menimbulkan kerepotan dan menambah biaya, maka keadaan ini membuat anak tegang dan gelisah. Ini tidak hanya akan semakin memperlama penyakit tetapi juga dapat merusak hubungan orang tua dengan anak.

3.    Kecelakaan
Kebanyakan anak mengalami luka iris, memar, radang, terbakar, patah tulang,otot kaku atau gangguan ringan lain sebagai akibat kecelakaan. Anak lain mengalami kecelakaan yang lebih parah sehingga untuk beberapa saat atau untuk selamanya menderita ketidakmampuan. Anak laki-laki lebih banyak mengalami kecelakaan daripada anak perempuan dan kecelakaan itu cenderung parah.
Meskipun kebanyakan kecelakaan dalam awal periode kanak-kanak tidak fatal, tetapi banyak yang meninggalkan cacat fisik atau psikologis selamanya. Banyak ketidakmampuan periode kanak-kanak, misalnya disebabkan kecelakaan. Ketidakmampuan dapat  misalnya, disebabkan kecelakaan. Ketidakmampuan dapat menyebabkan anak mempunyai perasaan rendah diri atau menyerah yang akan selamanya mengganggu pola kepribadiannya. Sekalipun kecelakaan tidak meninggalkan cacat fisik yang menetap, tetapi dapat membuat anak merasa takut dan malu sedemikian rupa sehingga perasaan ini menghantui penyesuaian hidupnya.

4.    Tidak Menarik
Dengan berjalannya awal periode kanak-kanak, anak-anak semakin tidak menarik sampai ia memasuki periode akhir kanak-kanak. Hal ini disebabkan karena beberapa hal.
a)       Dengan berubahnya bentuk tubuh, anak-anak mulai terlihat kurus dan janggal/kikuk;
b)      Rambutnya menjadi lebih kasar  dan sulit diatur sehingga penampilan anak-anak menjadi kurang rapih;
c)      Terdapat celah-celah di mulut di mana gigi tetap yang bertumbuh menggantikan gigi-gigi bayi yang tinggal tampaknya terlampau besar; dan
d)    Anak-anak lebih memperhatikan waktu-waktu yang menyenangkan daripada memperhatikan kerapihan dan kebersihan.
Dengan demikian anak-anak sering kali tampak kotor dan tidak terawat.
Terlepas dari usia individu, orang bereaksi positif terhadap anak yang tidak menarik dan beraksi negatif terhadap anak yang tidak menarik. Penampilan anak yang kurang menarik dan berperilaku yang berubah semakin tidak menarik bagi orang tua dan orang-orang dewasa lain dibandingkan ketika ia masih bayi. Oleh anak-anak, hal ini ditafsirkan sebagai penolakan dan tidak disukai, sekalipun dalam kelompok teman-teman sebaya, dalam penampilan menarik merupakan keuntungan sosial terutama bagi anak perempuan. Bagi anak laki-laki dapat merupakan kerugian sosial terutama menjelang periode usia berkelompok pada akhir periode kanak-kanak.

5.    Kejanggalan
Kekakuan yang aneh mungkin disebabkan kerusakan otak pada waktu lahir, keterbelakangan mental atau fisik lain. Tetapi yang lebih sering terjadi adalah bahwa anak terhambat oleh sikap orang tua yang sangat melindungi, ketakutan yang disebabkan kecelakaan atau peringatan-peringatan untuk berhati-hati, hambatan lingkungan atau kurangnya kesempatan untuk berlatih. Akibatnya, perkembangan motorik terlambat dan anak-anak menampilkan kesan “kaku” dibandingkan dengan teman-teman seusianya sehingga dia tidak diikutsertakan dalam bermain. Ia akan menganggap bahwa teman-temannya lebih baik, suatu perasaan yang akan berkembang menjadi perasaan rendah diri atau minder.

6.    Kegemukan
Secara medis, anak-anak yang berat tubuhnya 20 persen atau lebih di atas berat anak-anak normal yang seusianya, di anggap sebagai “gemuk”. Anak dengan bentuk tubuh endomorfik sebagai kelompok cenderung mengalami kegemukan dibandingkan dengan anak yang bentuk tubuhnya mesomorfik atau ektomorfik.
Kegemukan dipandang bahaya di tingkat usia manapun juga. Pertama, kegemukan membahayakan kesehatan. Dibandingkan dengan orang pada usia berapa pun, anak yang gemuk cenderung mengembangkan diabetes dan mengalami penyakit tekanan darah dan jantung daripada anak yang berat tubuhnya kurang lebih dari normal. Kedua, kegemukan membahayakan penampilan tubuh yang menarik. Kalau anak yang gemuk dianggap “manis” anak yang montok, yang terlalu gemuk tidak hanya di anggap tidak “manis”  tetapi parah lagi. Ia akan di cemooh oleh teman-temannya dan disebut “gendut”. Di samping itu, kegemukan merupakan bahaya dalam awal periode kanak-kanak karena ini adalah saat terbentuknya kebiasaan makan. Kalai anak-anak didorong untuk makan berlebihan, dipuji, dan diberi hadiah karena “piring bersih” diperbolehkan makan banyak karbohidrat dan apa yang di kenal sebagai “makanan sampah” yaitu makanan yang tidak mengenyangkan tapi tidak bergizi, kemungkinan yang terjadi adalah bahwa kebiasaan ini akan menetap dan mengakibatkan penyakit kegemukan yang akan mengganggu sepanjang hidup.

7.    Tangan-kidal
Tangan kidal dianggap berbahaya selama tahun-tahun awal periode kanak-kanak. Kalau anak yang bertangan kidal mempelajari keterampilan dari orang-orang yang tidak kidal, ia barang kali menjadi bingung bagaimana harus meniru model bertangan kanan. Kebingungan ini semakin parah dengan bertambah besarnya anak dan dengan semakin pentingnya peranan keterampilan dalam kehidupannya.
Tangan kidal dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikan anak dan kemudian keberhasilan dalam pekerjaan atau penyesuaian sosial. Misalnya, para remaja yang sadar diri mungkin menghindari situasi-situasi sosial di mana makan dengan tangan kiri akan membuatnya malu dan merasa menarik perhatian.
Banyak orang tua yang percaya bahwa tangan kidal merupakan bahaya, berusaha memaksa anak-anak mereka yang bertangan kidal menggunakan tangan kanan. Hal ini dapat juga berbahaya karena pemaksaan ini semakin menekankan perbedaan antara mereka yang sering ditafsirkan sebagai rendah diri terutama kalau orang tua menggunakan hukuman untuk memaksa anaknya menggunakan tangan kanan. Ames dan llg telah memperingatkan untuk tidak terlampau menekan anak dalam mengubah tangan kidal menjadi menggunakan tangan kanan. Menurut kedua ahli tersebut:
“Jikalau dalam menentukan sesuatu yang begitu kompleks, sehingga, dari semua kemungkinannya jelaslah bahwa hasil yang baik akan diperoleh jikalau orang tua tidak turut mencampuri ungkapan alamiah tangan kidal anak ketimbang anak lain yang  bertangan kanan, barangkali, untuk memperoleh sesuatu yang paling dekat dengan tangan kananya.”

Bahaya Psikologis
Semua bidang perkembangan perilaku anak dikaitkan dengan potensi bahaya yang dapat membawa akibat buruk pada penyesuaian pribadi dan sosial. Berikut ini akan dibahas sejumlah bahaya yang paling umum terjadi.
1.      Bahaya dalam Berbicara
Bicara merupakan sarana komunikasi dan karena komunikasi penting bagi kehidupan sosial maka anak-anak yang tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain akan mengalami hambatan sosial dan akhirnya dalam dirinya timbul perasaan tidak mampu dan rendah diri.
Ada empat bahaya umum sehubungan dengan periodelah kemampuan anak-anak berkomunikasi, yaitu:
a)      Orang lain tidak mengharapkan anak-anak untuk mengerti apa yang dikatakan apabila orang lain memakai kata-kata yang tidak di mengerti oleh anak-anak, kalau orang lain menggunakan ucapan yang tidak dikenal anak-anak atau kalau orang lain berbicara terlalu cepat. Ketidakberhasilan anak-anak mendengarkan lebih banyak menyebabkan kegagalan untuk mengerti. Karena sebagian besar anak-anak bersikap egosentris dan lebih berminat kepada apa yang ingin dikatakan kepada orang lain daripada apa yang dikatakan orang lain kepada mereka, sering kali mereka tidak mendengarkan dengan penuh pengertian sehingga tidak dapat mengerti apa yang dikatakan. Akibatnya, pembicaraan mereka tidak berhubungan dengan apa yang dikatakan orang lain dan hal ini membahayakan hubungan sosial mereka.
b)       Kalau mutu pembicaraan anak-anak begitu buruk sehingga sulit dimengerti, kemampuan orang lain lebih terancam bahaya daripada kalau ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya. Dalam awal periode kanak-kanak, mutu pembicaraan yang buruk dapat di sebabkan salah ucap atau kesalahan tata bahasa, sering kali disebabkan peniruan contoh yang buruk sampai pada cacat-cacat bicara seperti gagap, pelat, menelan kata-kata, atau berbahasa dua.

c)       Berbahasa dua merupakan hambatan yang serius dalam perkembangan sosial anak-anak. Anak-anak yang berbicara dalam bahasa asing di rumah dan hanya mengerti beberapa kata dalam bahasa Indonesia tidak mungkin dapat berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya dalam bermain, ia juga tidak dapat mengerti apa yang dikatakan teman-temannya.

d)       Banyak yang mengabaikan pembicaraan yang buruk karena menganggap bahwa anak-anak akan belajar berbicara  dengan lebih baik dengan bertambahnya usia. Tetapi, orang cenderung kurang dapat menerima kalau komentar-komentar terhadap orang lain bersifat kritis dan merendakan. Karena anak memperoleh kepuasan egois sementara dengan menyakiti orang lain maka ia cenderung terbiasa berbicara dalam acara yang tidak sosial. Pada saatnya hal ini akan merusak penyesuaian.

2.      Bahaya Emosional
Bahaya yang besar terhadap penyesuaian pribadi dan sosial berupa ketidakmampuan untuk melakukan empathic complex suatu ikatan emosional antara individu dan orang-orang yang berarti. Hal ini di sebabkan oleh dua hal.
a.         Anak yang ketika bayi tidak pernah mengalami perilaku akrab
Sedikitnya kesempatan untuk memperoleh hubungan yang hangat dan stabil dengan ibu atau pengganti ibu, tidak dapat menyadari kegembiraan yang dapat di peroleh dari hubungan akrab ini. Dengan demikian ia tidak berusaha untuk mengadakan hubungan yang hangat dan ramah dengan orang lain, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan orang-orang lain cenderung terikat pada diri sendiri, dan ini menghambat dia untuk mengadakan hubungan emosional dengan orang-orang lain.
b.         Anak yang tidak berhasil terikat secara emosional dengan mainan atau benda-benda mati ainnya
Seperti selimut, sering kali mereka tidak aman dalam menghadapi situasi baru. Seperti ditunjukkan oleh Passman, “Benda-benda kesayangan, baik benda mati maupun benda hidup, dapat bertindak sebagai penurun kegelisahan” hal ini berlaku pada anak yang beru menyelesaikan tahap bayi dan mempunyai pengalaman yang batas diuar rumah. Kalau anak prasekolah ditemani oleh benda-benda kesayangan, misalnya mainan kegemaran atau selimut maka kegelisahan di dalam situasi baru akan berkurang dan mempermudah penyesuaian diri di situasi baru.

3.      Bahaya sosial
Sejumlah bahaya terhadap berkembangnya penyesuaian sosial yang baik pada awal periode kanak-kanak di antaranya ada 5 yang sering terjadi dan sangat serius.
Pertama, kalau pembicaraan atau perilaku anak, menyebabkan dia tidak populer di antara teman-teman sebaya, dia tidak hanya merasakan kesepian tetapi yang lebih penting lagi dia kurang mempunyai kesempatan untuk belajar berperilaku sesuai dengan harapan teman sebaya.
Kedua, anak yang secara keras dipaksa untuk bermain sesuai dengan seksnya akan bertindak secara berlebihan dan ini akan menjengkelkan teman-teman sebaya.
Ketiga, akibat perlakuan teman-teman sebayanya anak mungkin mengembangkan sikap sosial yang tidak sehat. Anak menghindari kontak dengan orang-orang di rumah saja. Dengan melakukan hal ini anak tidak saja kekurangan pengalaman-pengalaman sosial yang baik tetapi juga kekurangan kesempatan untuk belajar berprilaku secara sosial.
Keempat, penggunaan teman khayalan dan binatang peliharaan untuk mengurangi kekurangannya teman. Mempunyai teman khayalan hanyalah penyelesaian sementara saja terhadap periodelah anak kesepian, tetapi dengan demikian sosialisasi anak sangat sedikit. Meskipun dalam beberapa hal binatang peliharaan dapat memenuhi kebutuhan sosial anak, tetapi pengaruhnya kurang terhadap sosialisasi yang harus di alami anak. Hewan peliharaan yang di anggap untuk anak biasanya sangat jinak sehingga dapat menerima setiap bentuk perlakuan anak tanpa proses. Ini mendorong anak bersikap agresif dalam hubungannya dengan hewan kesayangan itu. Seperti telah ditekankan terdahulu, agar anak dapat diterima sebagai anggota kelompok bermain, reaksi agresif harus diubah menjadi reaksi yang ramah dan penuh kasih sayang.
Kelima, dorongan orang tua untuk lebih banyak menggunakan waktu dengan anak-anak lain dan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu sendiri. Kalau anak menjadi terbiasa mempunyai teman pada setiap saat ia hendak bermain, sebagaimana yang sering terjadi bila anak-anak ditempatkan dalam pusat perawatan anak atau anak yang menghabiskan banyak waktu dalam taman indria atau TK, maka anak tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk menghibur diri sendiri pada saat ia sendiri, sehingga ia merasa kesepian daun merasa ditinggalkan.

4.      Bahaya Bermain
Kalau anak kurang mempunyai teman bermain, baik disebabkan karena lingkungannya terpencil atau karena tidak diterima oleh teman-teman bermain, ia terpaksa bermain sendiri. Pada awal periode anak-anak terutama berkembang melalui bermain dengan teman-teman, maka anak yang mempunyai sedikit teman bermain akan kekurangan kesempatan untuk belajar bersikap sosial.
Yang juga serius adalah kenyataan bahwa karena sebagian besar anak lebih gemar menonton televisi daripada bermain sendiri, maka anak yang kurang mempunyai teman bermain terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar televisi. Banyak orang tua yang menganggap melihat televisi tidak buruk bagi anak karena anak tidak mengerti apa yang dilihat. Mereka tidak menyadari bahwa anak tidak sekritis orang dewasa, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh apa yang dilihat daripada orang dewasa. Suatu acara mungkin tidak dimengerti tetapi anak sering mendapatkan kesan yang keliru atau konsep yang salah mengenai apa yang ditonton, sehingga cara yang tidak menimbulkan rasa takut, sehingga memperkuat akibat buruk yang ditimbul.
Mainan juga dapat menimbulkan bahaya pada awal periode kanak-kanak. Mainan yang tidak memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas seperti seperangkat boneka atau kumpulan serdadu, akan melemahkan dorongan kreativitas anak. Kreativitas anak dapat juga diperlemah bila orang tua atau guru-guru taman indria terlalu banyak mengawasi dan mengarahkan penggunaan mainan. Anak yang diberikan terlalu banyak mainan yang mendorong permainan agresif seperti pistol-pistolan atau serdadu-serdadu cenderung akan mengembangkan pola perilaku agresif yang akan di bawa ke dalam situasi kehidupan.

5.     Bahaya dalam Perkembangan Konsep
Tiga bahaya umum dalam perkembangan konsep selama periode awal periode kanak-kanak yaitu:
a.    Ketidaktepatan pengertian.
Keterbatasan kosa kata sehingga menyulitkan anak untuk mengerti dengan tepat maksud yang dikatakan orang lain kepadanya dan karena terbatasnya kesempatan untuk mempelajari arti yang benar dari sumber-sumber otoriter seperti buku-buku atau orang-orang dewasa dengan informasi yang benar, dapatlah dimengerti kalau konsep-konsep yang dipelajari anak tidak tepat atau benar-benar salah. Terlebih kalau anak mempelajari arti-arti dari teman-teman atau orang-orang dewasa yang pengetahuannya terbatas bahkan mungkin benar-benar salah.
Ketidaktepatan konsep yang dipelajari selama awal periode kanak-kanak sangat berbahaya karena kesalahan konsep-konsep yang sering kali berurat berakar sebelum diketahui oleh orang-orang dewasa.

b.    Konsep di bawah tingkat perkembangan teman-teman sebaya.
Konsep ini terjadi maka dapat sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak. Misalnya, kalau anak  mempunyai kesempatan yang terbatas untuk berhubungan dengan orang-orang di luar rumah,  ia tidak mengembangkan dengan orang-orang di luar rumah, ia tidak mengembangkan konsep sosial yang dapat memungkinkan untuk mengerti orang lain dengan baik. Akibatnya, anak sering mengatakan kata-kata yang rasanya kasar dan kurang bijaksana serta perilakunya cenderung mengganggu  dan bertentangan dengan orang lain.

c.    Bobot Emosi
Konsep dapat menyajikan bahaya yang ketiga dan yang lebih parah. Misalnya, kalau anak membentuk konsep hari Natal di sekitar Santa Claus dengan bobot emosi yang menyenangkan, mereka tidak mau mengubah konsep hari Natal ketika diketahui bahwa Santa Claus tidak ada. Lebih gawat lagi, anak akan merasa tertipu oleh mereka yang menceritakan tentang Santa Claus, dan akan merasa bahwa hari Natal kurang berarti baginya sekarang.

6.      Bahaya Moral
Ada 4 bahaya umum dalam perkembangan moral selama periode awal periode kanak-kanak yaitu disiplin yang tidak konsisten memperlambat proses untuk belajar menyesuaikan diri dengan harapan sosial; jika anak tidak mendapat teguran dari perbuatan yang melanggar maka hal ini akan mendorong anak untuk terus mempertahankan perilaku yang salah; terlampau banyak penekanan pada hukuman pada perilaku yang salah dan terlampau sedikit penekanan pada sikap yang kurang baik kepada orang-orang yang berkuasa, anak lebih sering dihukum daripada diberi hadiah akan menjadi pemberontak dan ingin menentang orang yang menghukumnya; anak yang terkena disiplin otoriter tidak dapat mengembangkan pengendalian internal terhadap perilaku yang membentuk dasar bagi perkembangan lebih lanjut hati nurani.

7.      Bahaya dalam Penggolongan Peran Seks
Ada 3 bahaya yang umum dan serius dalam penggolongan peran seks selama awal periode kanak-kanak. Pertama, kalau anak tidak belajar stereotip peran seks yang umumnya diterima oleh teman-temannya, baik yang tradisional maupun yang sederajat, anak akan memandang perilaku secara berbeda dengan pandangan teman-temannya. Kedua, kalau anak perempuan dilatih untuk menyesuaikan dengan stereotip tradisional bagi kelompok perempuan, maka secara tidak langsung ia belajar bahwa kelompok wanita secara fisik dan psikologis dipandang lebih rendah daripada kelompok pria. Ketiga, kegagalan dalam penggolongan peran seks dapat merupakan hambatan sosial bagi anak laki-laki maupun perempuan.

8.      Bahaya dalam Hubungan Keluarga
Anak perempuan yang merasa bahwa orang tua lebih menyukai anak laki-laki di dalam keluarga, akan membenci orang tua dan saudara laki-lakinya. Bagi anak laki-laki ancaman terbesar pada hubungan orang tua anak pada awal periode kanak-kanak adalah kurangnya identifikasi ayah dan kurangnya kehangatan emosional antara ayah dan anak yang mendorong terus berlangsungnya identifikasi anak dengan ibu dan berkembangnya minat dan pola perilaku yang dapat dianggap”banci” oleh teman-teman sebaya. Ancaman lain terhadap hubungan orang tua anak yang baik adalah ibu yang bekerja dan orang tua tiri. Kalau ibu yang bekerja di  luar rumah, perawatan anak harus diserahkan kepada sanak keluarga atau pengasuh bayaran atau anak harus dititipkan ke pusat perawatan anak. Hubungan orang tua anak dipengaruhi oleh orang tua tiri sebagian besar bergantung pada bagaimana perasaan anak mengenai orang tua tiri itu. Bahaya keluarga yang sering terlupakan adalah  pertengkaran antar saudara, yang dapat disebabkan karena iri hati atau perbedaan minat. Hubungan keluarga yang paling serius tetapi jarang terjadi adalah penganiayaan anak.

9.      Bahaya Kepribadian
Bahaya kepribadian yang paling serius adalah perkembangan konsep diri yang paling baik yang dapat disebabkan perlakuan anggota keluarga dan teman-teman, sebab adanya harapan-harapan yang tidak realistis sehingga anak merasa gagal karena tidak dapat mencapai tujuan yang diletakkan oleh orang tua atau disebabkan egosentrisme yang kuat. Apapun sebabnya, konsep diri yang kurang baik mudah berkembang pada awal periode kanak-kanak. Sekali berkembang konsep tersebut sulit diatasi. Bahaya konsep diri yang kurang baik adalah juga karena konsep tersebut cenderung menetap. Aspek pola kepribadian tertentu berubah selama awal periode kanak-kanak sebagai akibat dari pematangan, pengalaman, da lingkungan sosial serta lingkungan budaya dalam kehidupan anak. Perubahan biasanya bersifat kuantitatif, misalnya sifat yang kurang disenangi cenderung semakin buruk dan bukannya menghilang dan diganti oleh sifat yang baru.

1.6            Abnormalitas Periode Anak Awal

1.                  ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
DEFINISI
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik pada anak-anak dan seringkali berlanjut sampai dewasa. Ada tida aspek utama dalam ADHD, yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian dan kebiasaan hiperaktif (perilaku yang tidak bisa diam) serta kebiasaan impulsif (kesulitan untuk menunda respon/ dorongan untuk melakukan/mengatakan sesuatu yang tidak sabar). Anak-anak dengan penyakit ADHD ini mengalami kepercayaan diri yang rendah, masalah dalam berinteraksi dengan orang lain dan rendahnya kemampuan di sekolah.
GEJALA UTAMA
Tanda dan gejala kesulitan untuk memusatkan perhatian, meliputi:
· Sering gagal dalam memberikan perhatian pada hal-hal yang detil ataupun ketidakpedulian jika berbuat kesalahan dalam berbagai aktivitas.
· Sering memiliki masalah dalam mempertahankan perhatian pada pekerjaan atau ketika bermain.
· Tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung.
· Susah mengikuti petunjuk yang diberikan dan sering gagal dalam menyelesaikan tugas sekolah ataupun tugas-tugas lainnya.
· Sering gagal dalam hal pengaturan tugas maupun aktifitas lainnya.
· Menghindari atau tidak menyukai tugas-tugas yang membutuhkan upaya mental secara terus menerus seperti halnya tugas sekolah maupun pekerjaan rumah.
· Sering kehilangan sesuatu yang sedang dikerjakan, seperti buku, pensil, mainan, ataupun peralatan lainnya.
· Mudah bingung.
· Sering lupa.

Tanda dan gejala hiperaktif (perilaku yang tidak bisa diam) dan kebiasaan impulsif (kesulitan untuk menunda respon/dorongan untuk melakukan/ mengatakan sesuatu yang tidak sabar), meliputi:
·         Sering gelisah.
·         Sering meninggalkan kursi di kelas atau pada situasi lain yang mengharapkan ia untuk duduk.
·         Sering berlari atau memanjat, bertingkah secara berlebihan, atau jika ia remaja akan merasa gelisah secara berkelanjutan.
·         Sulit untuk bermain dengan tenang.
·         Selalu merasa harus pergi.
·         Berbicara secara berlebihan.
·         Menjawab secara berlebihan sebelum pertanyaan yang diberikan selesai dikatakan.
·         Sulit untuk menunggu giliran.
·         Sering mengganggu orang lain dalam pembicaraan atau permainan.

Kebiasaan ADHD pada anak perempuan dan anak laki-laki memiliki perbedaan, yaitu:
·         Anak laki-laki lebih terlihat hiperaktif, sedangkan pada anak perempuan sering memperlihatkan kealpaan.
·         Pada anak perempuan yang kesulitan dalam memberikan perhatian sering tenggelam dalam imajinasi, tetapi pada anak laki-laki bertingkah tanpa tujuan atau selalu bermain.
·         Anak laki-laki cenderung kurang mau mengalah terhadap guru atau orang dewasa lainnya, sehingga kebiasaan itu sering menjadikannya terlihat menonjol.

2.                  Cacat Mental
Cacat mental sama artinya dengan retardasi mental, lemah mental, keterbelakangan mental, mental defektif, mental handicapped, defisiensi mental atau intellectually deficit.
            Ada beberapa pertanda yang dapat digunakan untuk mengenali anak cacat mental (S. M. Lumbantobing, 2001).
1.      Sejak lahir perkembangan mentalnya terbelakang disemua aspek perkembangan. Kecuali perkembangan motorik misalnya: mereka dapat berdiri, merangkak, dan berjalan.
2.      Terbelakang dalam perkembangan bicara.
3.      Kurang memberi perhatian terhadap sekitarnya, misalnya: tidak bereaksi terhadap bunyi atau suara yang terdengar.
4.      Kurang dapat berkonsentrasi. Perhatian terhadap mainan hanya berlangsung singkat atau bila diberi mainan tidak mengacuhkannya.
5.      Kesiagaannya kurang, misalnya jika mainannya jatuh dihadapannya ia tidak berusaha mengambilnya.
6.      Kurang memberi respon terhadap lingkungan jika dibanding dengan anak normal.
3.                  Kesulitan Berbicara
Anak dikatakan mengalami kesulitan belajar jika secara umum berbicara anak tidak sesuai dengan kemampuan anak seusianya serta mengandung berbagai kesulitan dalam artikulasi, penyuaraan, dan kelancaran berbicara.
            Ciri-ciri anak mengalami kesulitan berbicara adalah jika anak:
ž  Tidak jelas mengucapkan kata.
ž  Mengalami kelainan nada, kenyaringan suara, dan kualitas anak.
ž  Tidak lancar dalam mengucapkan kata-kata.
4.                  Temper Tantrum
Anak temper tantrum adalah anak yang marah secara berlebihan. Perilaku ini sering terjadi pada anak berusia 4 tahun. Kebiasaan mengamuk akan lebih sering dilakukan bila anak mengetahui bahwa dengan cara ini keingiannya akan dipenuhi.
            Secara umum ada beberapa ciri untuk mengenali :
Ø  Anak tampak merengut dan mudah marah.
Ø  Perhatian, pelukan, atau pendekatan khusus lainnya tampak tidak memperbaiki suasana hatinya.
Ø  Dia mencoba melakukan sesuatu diluar kebiasaannya atau meminta sesuatu yang dia yakini tidak akan diperolehnya.
Ø  Dia meningkatkan tuntutannya dengan cara merengek dan tidak mau menerima jawaban “tidak”.
Ø  Dia melanjutkn dengan menangis, menjerit, menendang, memukul, atau menahan nafas.
5.                  Agresif
Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan.
            Gejala-gejala anak agresif adalah sebagai berikut:
v  Sering mendorong, memukul, atau berkelahi
v  Menyerang dengan menggunakan kaki, tangan, tubuhnya untuk mengganggu permainan yang dilakukan untuk mengganggu teman-teman.
v  Menyerang dalam bentuk verbal seperti ; mencaci, mengejek, mengolok-olok, berbicara kotor dengan teman.
v  Tingkah laku mengganggu ini muncul, umumnya karena ingin menunjukkan kekuatan di kelompok.
v  Tingkah laku menganggu ini pada dasarnya melanggar aturan atau norma yang berlaku disekolah seperti ; berkelahi, merusak alatpermainan milik teman, mengganggu anak lain
6.                  Gangguan Eliminisi
Gangguan Eliminisi adalah gangguan pada perkembangan anak dan remaja dimana tidak dapat mengontrol buang air kecil ( BAK ) dan buang air besar ( BAB ) setelah mencapai usia normal untuk mampu melakukannya.
7.                  ODD (Oppositional Defiant Disorder)
Perilaku dalam gangguan ini menunjukkan sikap menentang, seperti berargumentasi, kasar, marah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat terlarang, atau keduanya. Namun dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain sampai tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku.
8.                  Enurasis
Enurasis adalah mengompol di atas usia 3 tahun,bisa di siang hari tetapi umumnya di malam hari. Biasanya gangguan mengompol ini terjadi antara dua sampai lima kali dalam seminggu.
Penyebabnya dapat karena proses belajar yang salah,kekurangmatangan kepribadian,atau hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga sehingga menimbulkan kecemasan dalam diri penderita.
9.                  Enkopresi
Enkopresis adalah  tidak mampu mengendalikan hajat buang air besar pada subjek berusia 4 sampai 12 tahun. Kasus ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Gangguan ini akan meningkat apabila penderita mengalami stress.

















BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dan pendiskripisian  serta pembahasan mengenai periode anak awal diatas maka kami menyimpulkan ,bahwa :
Periode anak awal dimulai usia dua tahun sampai dengan enam tahun. Dengan kharakteristik yaitu
Perkembangan fisik yang terjadi pada periode awal anak-anak adalah dengan berkembangnya fisik dan sistem syaraf pusat yang meliputi : tinggi, berat badan, perbandingan tubuh  ,postur tubuh, tulang dan otot   gigi
Perkembangan Kognitif artinya kemampuan berfikir, kemampuan menggunakan otak. Perkembangan kognisi berarti perkembangan anak dalam menggunakan kekuatan berfikirnya. Dalam perkembangan kognitif, anak dalam hal ini otaknya mulai mengembangkan kemampuan untuk berfikir, belajar dan mengingat. Dunia kognitif anak pada usia ini adalah kreatif, bebas, dan fantastis.
   Perkembangan psikososial  
ü  Perkembangan emosi
ü  Perkembangan sosial
ü  Perkembangan permainan
ü  Perkembangan moral
 Tugas perkembangan periode kanak –kanak awal
ü  Belajar memakan makananan padat.
ü  Belajar berjalan.
ü  Belajar berbicara.
ü  Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh.
ü  Mempelajari perbedaan dan peran yang sesuai dengan jenis kelamin.
ü  Mempersiapkan diri untuk membaca.
ü  Mulai membedakan benar dan salah, mulai belajar mengembangkan hati nurani.
ü  Belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang tua, kaka, adik, dan orang lain.
ü  Memperoleh stabilitas fisiologis
ü  Membentuk konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan fisik
Kebutuhan pada periode anak awal terdiri kebutuhan pokok yaitu kebutuhan dasar anak seperti makan,minum,dorongan seks(penegasan kelamin). Kebutuhan tambahan,pada periode anak awal ini dibutuhkan seperti pemberian  pakaian, bermain,kasih sayang, pengetahuan agama, peningkatan kreativitas, pengenalan anggota dan lingkungan sekitar.
Masalah pada periode anak awal meliputi kegemukan,penyakit,bahaya fisik,psikologis,kegemukan,kejanggalan,kecelakaan,moral,emosi,penggolongan seks,hubungan dengan keluarga yang tentunya bisa dicermati dan diantisipasi serta adanya kehati-hatian supaya meminimalisir masalah pada periode ini.
Abnormalitas pada periode anak awal contoh Enkopresis, Enurasis, ODD (Oppositional Defiant Disorder), Gangguan Eliminisi, Agresif, Temper Tantrum, Kesulitan Berbicara, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder),cacat mental .
Sehingga periode anak awal peran orang tua beserta lingkungan sekitar harus mendukung perkembangan serta memperhatikan perkembangan anak supaya tidak terjadi abnormal/ penyimpangan.

B.     Saran
Sebaiknya didalam pengasuhan anak peran orang tua harus memperhatikan kondisi anak kita baik dari segi fisik, segi kognitif maupun segi psikososial .
Hendaknya orang tua mampu memberikan pengaruh – pengaruh yang baik kepada anak sehingga ia dapat melakukan perkembangan dengan baik dalam membentuk kepribadiannya.
DAFTAR PUSTAKA

v  Desmita.2010.Psikologi Perkembangan.Bandung:PT REMAJA ROSDAKARYA.
v  F.J Monks dkk. 1996. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
v  Hurlock, Elizabeth B.2015.Psikologi Perkembangan.Jakarta.Erlangga.
v  Lusi Nuryanti. 2008. Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Indeks
v  Santrok John . 2011. Perkembangan Anak. Jakarta: Salemba Humanika
v  Sumantri, Mulyadi. 2003. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
v  Supratiknya,A.1995.Mengenal Perilaku Abnormal.Yogyakarta:Kanisius
v  Yusuf , Syamsu L.N. 2000.  Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosda Karya.
v  Wiramihardja,Sutradjo A.2010.Pengantar Psikologi Abnormal.Bandung:PT Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar